Senin, 02 Januari 2012

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI PTK


UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIF PROBLEM SOLVING(CPS) DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA POKOK BAHASAN ALJABAR KELAS V11 A  SMP N 1 SUSUKAN, SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2010/2011

INSTRUMEN SKRIPSI










Oleh:
TRISNAWATI
07310401






FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2010

HALAMAN PENGESAHAN

Proposal skripsi dengan judul
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIF PROBLEM SOLVING(CPS) DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA POKOK BAHASAN ALJABAR KELAS V11 A  SMP N 1 SUSUKAN, SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2010/2011
yang disusun oleh:

Nama      :           Heri Cahyono
NPM      :           07310199
Jurusan   :           Matematika

Telah disetujui dan disahkan pada:
Hari            :
Tanggal      :


                                                                                        Semarang,     Januari 2010
                 Pembimbing I                                                         Pembimbing II


        Prof.Dr Sunandar MPd                                            Drs.Rasiman MPd
     NIP. 1960111319920310001                                   NIP. 196011211987031001


Mengetahui
DEKAN FPMIPA



Ary Susatyo N., S,Si., M.Si.
NIP. 1969082619994031002

A.      JUDUL
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIF PROBLEM SOLVING(CPS) DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA POKOK BAHASAN ALJABAR KELAS V11 A SMP N 1 SUSUKAN, SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2010/2011

B.       LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks. Peristiwa tersebut merupakan rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia itu bertumbuh sebagai pribadi yang utuh.Manusia bertumbuh  melalui belajar, tidak dapat melepaskan diri dari mengajar .Mengajar dan belajar  merupakan proses kegiatan yang tidak dapat di pisahkan.proses kegiatan tersebut sangat di pengaruhi oleh faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
Belajar dan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dengan belajar manusiadapat mengembangkan potensi-potensi yang di bawanya sejak lahir.Aktualisasi potensi ini sangat berguna bagi manusia untuk dapat menyesuaikan diri demi pemenuhan kebutuhannya. Kebutuhan manusia makin lama makin bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan tersebut.
Dalam proses pembelajaran ada komponen yang terlibat dan tidak dapat di pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Komponen- komponen itu adalah: tujuan, bahan, alat dan metode,sarana serta penilaian.Tujuan dalam proses belajar mengajar berfungsi sebagai pedoman keberhasilan belajar, sedangkan isi tujuan pembelajaran pada hakikatnya adalah hasil belajar yang di harapkan. Metode dan alat bantu pelajaran berfungsi sebagai alat transformasi pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah di capai. Sehingga metode dan alat bantu pengajaran yang di gunakan harus efektif dan efisien. Sarana sangat di perlukan dalam rangka menciptakan interaksi, sebab interaksinya hanya mungkin terjadi bila ada sarana waktu,tempat dan sarana-sarana lainnya. Sedangkan penilaian merupakan alat ukur berhasil tidaknya tujuan pembelajara ( Suryosubroto, 2002: 158 )
Berdasarkan informasi dari Bp.Didik Heru Darwono Spd. Guru yang mengajar matematika disekolah tersebut bahwa rata-rata nilai ulangan harian siswa pada tahun ajaran 2009/2010 pada materi pokok aljabar adalah 5,5. Nilai rata-rata tersebut kuarang dari nilai KKM (kriteria ketuntasan minimum), yang diharapkan yaitu 6,5. Dalam hal ini guru telah melakukan berbagai uasha agar nilai harian siswa dapat meningkat, namun usaha yang dilakukan belum menunjukan hasil yang optimal.
Selain itu ada juga permasalahan kurangnya keberaniaan siswa untuk mengungkapkan kesulitan yang dialaminya kepada guru dalam memahami m ateri yang di ajarkan, sehingga siswa bersifat pasif dalam menerima materi pelajaran dan akhirnya siswa merasa malas untuk belajar.
Dari urain, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: "Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving (CPS) Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 A SMP N 1 Susukan, Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011".
Dalam hal ini guru harus mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan mampu menyajikan model pembelajaran yang menarik. Penggunaan bermacam-macam metode dan modal mengajar di sekolah masih sangat terbatas yang telah dikenal oleh dunia pendidikan dewasa ini mempunyai dasar-dasar psikiligis dan pengalaman terapan yang cukup kuat. Dalam berbagai macam metode mengajar banyak menyajikan sejumlah usaha yang dapat di tempuh oleh guru dalam merancang lingkungan belajar mengajar agar murid dapat menggunakan strategi yang lebih baik.
 Untuk memecahkan masalah yang terjadi dikelas VII SMP Negeri I Susukan maka dilakukan penelitian tindakan kelas yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi dimana praktik-praktik pembelajaran sebelumnya tersebut dapat mencapai suatu tujuan dari permasalahan khususnya pada peningkatan hasil belajar siswa. Salah satu alternatifnya adalah denngan menggunakan penggabungan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan model pembelajaran Creatif problem solving dengan pendekatan konstektual. Dalam penggabungan model pembelajaran ini kelas dibagi mejadi kelompok-kelompok belajar terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam suatu perencanaan kegiatan dalam pembelajaran. Setiap anggota kelompok diharapkan bekerja sama,berdikusi, tukar menukar informasi dan menyelesaikan persoalan yang dikembangkan oleh peran aktif sesama siswa dalam kelompok. Sehingga setiap siswa bertanggung jawab, baik dalam pembelajaran sendiri maupun pembelajaran kelompok. Dengan interaksi aktif antar siswa dalam memahami materi dan menghadapi soal atau  masalah bersama dapat mencari jalan keluar agar  kekurang pahaman siswa akan standar kompetensi dapat teratasi secara menyeluruh dan menumbuhkan minat serta mampu meningkatkan hasil belajar.
Pembelajaran tipe jigsaw ini menekankan model pembelajaran siswa belajar kelompok atau tim yang beranggotakan 4-5 orang siswa yang heterogen kemampuanya. Setiap siswa bertanggung jawab atas penugasan bagian materi pembelajaran dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota tim lain.
Problem solving merupakan suatu metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk bisa memecahkan masalah. Metode pemecahan masalah bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving siswa diajak berfikir memecahkan masalah. Tujuan dari problem solving adalah siswa diajak berfikir yang dimulai dengan mengidentifikasi masalh kemudian mencari alternatif yang paling tetap sebagai jawaban yang tepat dari masalah tersebut.penginsentifikasi masalah adalah menemukan persoalan dari konsep-konsep bahan ajar yang disampaikan oleh guru, kemudian merumuskan dalam bemntuk pertanyaan, sedangkan alternatif pemecahan masalah adalah mengkaji jawaban pertanyaan dari berbagai sumber yaitu buku pelajaran, pengalaman, dan faktor dari sumber lainya
Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata. sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi dan hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik akan merasakan pentingnya belajar dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam setatus apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan bekal untuk hidupnya nanti. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Berdasarkan pandangan diatas, jelas bahwa pendidikan menuntut adanya keterkaitan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Jadi guru dituntuut mampu mengemangkan pembelajaran matematika yang berdasarkan pada kompetensi yang harus dikuasai siswa, serta mampu menumbuhkan keatifitas siswa. Salah satunya adalah pengajaran dengan pendekatan konstektual.
Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan bekal untuk hidupnya nanti. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guuru sebagai pengaruh dan pembimbing.  


C.    PENEGASAN ISTILAH
Untuk memperjelas permasalahan dan pencapaian hasil sesuai dengan yang diharapkan dalam penelitian ini, maka penulis perlu memberikan penjelasan tentang arti beberapa kata atau istilah yang tercamtum dalam judul skripsi. Dengan penjelasan ini diharapkan dapat menghindari adanya perbedaan penafsiran atas istilah-istilah yang digunakan dalam skripsi ini.
1.      Upaya
Upaya adalah usaha akal, ikhtiar yang dilakukan individu atau kelompok. (tim penyusun kamus pusat bahasa, 2007: 852)
2.      Meningkatkan
Meningkatkan adalah menaikkan (derajat, taraf, dsb), memperbaiki, memperhebat             (produksi, dsb). ( tim penyusun balai pustaka, 2007: 820 )
3.      Hasil belajar
Hasil adalah sesuatu yang disapat dari jerih payah. (Tim penyusun balai pustaka, 2007 : 351)
Bertambahnya pengetahuan, bertambahnya ketrampilan dan meningkatnnya mutu sikap seorang terhadap sesuatu hal bila dibadingakn dengan keadaanya sebelumnuya .
4.      Pembelajaran
Pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar progam belajar tumbuh dan berkembang secara maksimal (Tim MKPBM, UPI, 2001).
5.      Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pengajaran dimana siswa bekerjasama dalam kelompok kecil dengan tingkat kemampuan, latar belakang sosial, ekonomi, jenis kelamin dan suku yangberbeda.Dalam pembelajaran kooperatif tugas utama anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi.Jadi ketuntasan atau keberhasilan belajar menjadi tanggung jawab bersama dalam kelompok tersebut (Lie, 2002: 28).


6.      Pembelajaran Kooperatf Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang beranggotakan 4 samapai 6 orang siswa dengan karakteristik yang heterogen.Bahkan akademik yang disajikan kepada siswa dalam bentuk teks, dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian yang sama dan selanjutnya, berkumpul untuk saling membantu mengkaji bahan tersebut (Ibrahim, 2000: 21).
7.      Creatif Problem Solving
Problem solving adalah suatu metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk bisa memecahkan masalah.metode pemecahan masalah bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving siswa diajak berfikir memecahkan masalah. Tujuan dari problem solving adalah siswa diajak berfikir yang dimulai dengan mengidentifikasi masalh kemudian mencari alternatif yang paling tetap sebagai jawaban yang tepat dari masalah tersebut.penginsentifikasi masalah adalah menemukan persoalan dari konsep-konsep bahan ajar yang disampaikan oleh guru, kemudian merumuskan dalam bemntuk pertanyaan, sedangkan alternatif pemecahan masalah adalah mengkaji jawaban pertanyaan dari berbagai sumber yaitu buku pelajaran, pengalaman, dan faktor dari sumber lainya 
8.      Konstektual
Pembelajara konstektual (Contextual Teacing and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi  yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata oleh siswa. Dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapanya dalam kehidupanya mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi  siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. (Baharudin, Ekhsa Nurwahyuni, 2007).
9.      Pokok Bahasan Aljabar.
Jika bentuk aljabarnya ax2 + bx + c  dengan a, b, dan c adalah konstanta dan x2, x adalah variabel maka :
Ø  Bentuk aljabar tersebut memiliki 4 suku, yaitu ax2, bx, dan c;
Ø  a disebut koeisien dari x2, b disebut koefisien dari x, c disebut konstanta, x2 dan x disebut peubah atau variabel.
Ø  bx dan cx merupakan suku-suku  sejenis, sedangkan ax2 , bx,dan c diseqbut suku-suku berlainan jenis.
Berdasarkan penegasan istilah diatas, maka arti keseluruhan dari ” Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving(CPS) dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 A Smp N 1 Susukan, Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011” adalah suatu penelitian tindakan kelas untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa yang menggunakan Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving(CPS) dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 Smp N 1 Susukan, Semarang Tahun Pelajaran.

D.      PERMASALAHAN
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
1.      Apakah perpaduan antara model pembelajaran kooperatiftipe jigsaw dan model pembelajaran kreatif problem solving dengan pendekatan konstektual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok aljabar pada kelas VII SMP Negeri I Susukan, Semarang tahun pelajaran 2010/2011?
2.      Bagaimana aktifitas siswa kelas VII A SMP Negeri I Susukan, Semarang tahun pelajaran 2010/2011 pada proses pembelajara matematika?.


E.       TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.      Tujuan penelitian ini untuk mengetahui:
a.       Dengan  perpaduan antara model pembelajaran kooperatiftipe jigsaw dan model pembelajaran kreatif problem solving dengan pendekatan konstektual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok aljabar pada kelas VII A s SMP Negeri I Susukan, Semarang.
b.      Aktifitas siswa kelas VII A SMP Negeri I Susukan, Semarang tahun pelajaran 2010/2011.
2.      Manfaat.
Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu:
a.       Bagi siswa
1)      Memudahkan siswa dalam memahami materi.
2)      Siswa berlatih memecahkan masalah secara kelompok.
3)      Dapat membangkitkan minat siswa untuk belajar.
b.      Bagi guru
1)      Dapt membantu guru mengarahka siswanya untuk dapat memahami materi melalui aktifitas kelompoknya dengan pendekatan konstektual.
2)      Meringankan kerja guru dalam proses belajar mengajar.
c.       Bagi peneliti
Peneliti dapat pengalaman langssung dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

F.       LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1.      Pengertian belajar
Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang.pengetahuan ketrampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, dan dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Karena itu seseorang dikatakan belajar, bila dapat diasumsikan dalaam didri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar memiliki arti “ berusaha untuk memperoleh ilmu atau menguasai suatu ketrampilan berlatih”. Definisi memiliki pengertian bahawa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Di sini, usaha untuk mencapai kepandaian ataau ilmu merupakan usaha manusia untukmemenuhi kebutuhanya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan baelajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti dan melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2) sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi tentang belajar sebagai suatu perubahan (Darsono, 2001: 3).
 Menurut Skiner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Education Psykology:  The Tachhing-Leaching Proces, berpendapat bahwa belajr adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang langsung secara progesif.
 Sedangkan menurut hilgard (1962:252) “as the process by which an activity originates or is changed through responding to a situatin”. Dalam hal ini hilgard menekankan pada mengorganisasikan perubahan dalam merespons suatu situasi. Mogan (1961: 187) “ learning is any relatifely permanent change in behavior that is a result of past esperience”, yang artinya morgan menekankan pada tetapnya perubahan tingkah laku (secara relatif) sesudah belajar.   
Jadi belajar adalah tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkngan yang melibatkan proses kognitif
2.      Pengertian pembelajaran
Pembelajaran adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai dari hasil pengalaman.
Menurut konsep sosiologi, belajar adalah jantungnya dari proses sosialisasi, pembelajaran adalah rekayasa sosio-psikologis untuk memellihara kegiatan belajar tersebut sehingga tiap individu yang belajar akan belajar secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik.
Jadi pembelajaran adalah suatu proses atau cara untuk menjadikan orang belajar, mengatur , mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.

3.      Hasil belajar matematika
Hasil belajar dan proses belajar, kedua-duanya sangat penting. Di dalam belajar ini, terjadi proses  berfikir. Seseorang di katakan berfikir bila orang itu melakkan kegiatan mental, bukan kegiatan motorik,walaupun kegiatan motorik ini dapat pula bersama- sama dengan kegiatan mental tersebut.
Dalam kegiatan mental itu, orang menyusun hubungan-hubungan antara-antara bagian informasi yang telah di peroleh sebagai pengertian. Karena itu orang jadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut sehingga orang itu dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang di pelajari.
Secara global, faktor-fakto yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam, yakni:
1.      Faktor internal (faktor dari dalam siswa),yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
Faktor yang darisiswa sendiri meliputi dua aspek : aspek fisiologis dan psikologis.
a)      Aspek fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti plajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertaii pusing kepala brat misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehinggga materi yang dipelajarinya pun krang atau tidak berbekas. 
b)      Aspek psikologis
Banyak faktor termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhui kuantitaas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor rohaniahsiswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu aadalh sebagai berikut : 1) tingkat kecerdasan/intelegensi siswa; 2)sikap siswa; 3) bakat siswa; 4) minat siswa; 5) motivasi siswa.
a.       Intelegensi siswa
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkunnggan dengan cara yang tepat (Reber, 1988)
b.      Sikap siswa
Sikap siswa adlah internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.
c.       Bakat siswa
Secara umum bakat, adalah kemepuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pad amasa yang akamdatang (Chalpin, 1972; Reber, 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki balat dalam arti berpotensi untuk mencaoai prestasi sampai ketingkat tertentusesuai dengan kapasiitas masing-masing. Jadi secara global bakat itumirip dengan intelegensi.
d.      Minat siswa
Secara sederhana minat itu berati kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Rober (1988),minatbtidak termasuk istilah populer dala psiokologi karena ketergantunganya yang banyak pada faktor-faktor internal kainya seperti: pemusatan perhattian, keigintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
e.       Motifasi siswa
Pengertian dari motivasi adalah keaadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara lemah (Gleitmen, 1986; Reber, 1988).
2.      Faktor eksternal (faktor dari luaar siswa), yakni kondisi lingkungan diluar siswa.
Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni ; faktor lingkkungan sosial dan aktor lingkungan nonsosial.
a.       Lingkunga sosial
Lingkungan sosial yang lebh banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sfat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga,dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik maupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasi yang dicapai oleh siswa. Contoh kebiasaan yang diterapkan orang tua dalam mengelola keluarga yang keliru, seperti kelalaian orang tua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan dampak lebih buruk lagi. Dalam hal ini, bukan saja anak tdak mau belajar melainkan juga ia cenderung berperilaku mmenyipan, terutama perilaku menyimpang yang berat seperti antisosial (Patterson & Loeber, 1984).
b.      Lingkungan nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadan cuaca dan waktu belajar yang digunaan siswa. Faktor-faktor diapndang turut menentukan tingkat keberhasilan siswa.
3.      Faktor pendekatan belajar siswa
 yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi pelajaran. Dan dapat dipahami sebagai seggala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menjunjung keekfetifan dan efisiensi proses ppembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.
 Jadi hasil belajar matematika adalah usaha yang di lakukan individu atau siswa untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukanya dengan maksud memperoleh perubahan dengan dirinya baik berupa pengetahuan, ketrampilan ataupun sikap sehhingga proses balajar menajar menjadi efektif. Hasil belajar dalam penelitian ini adalah kemempuan siswa dalam menyelesaikan soal aljabar dan dilihat dari nilai rata-rata siswa 5,5. Upaya ini juga dilakukan untuk meningkatkan kecakapan siswa dalam belajar mmengajarserta siswa dapat bersosialisasi dengan kelompoknya degan baik.

4.      Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran cooperative learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran konstekstual. Sistem pengajaran cooperatif lrearning dapat didefinisikan sebagaisistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk didalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993) yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerjasama, dan proses kelompok.
Pembelajaran kooperatif adalah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis, pembelajaran koperatif merupakan strategi belajar dengansejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran menurut Anita Lie dalam bukunya “cooperative learning”, bahwa model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap copperatif learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu:
a.       Saling ketergantungan positif
b.      Tanggung jawab perseorangan
c.       Tatap muka
d.      Komunikasi antar kelompok
e.       Evaluasi proses kelompok
Tujuan pembelajaran cooperative learning berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situsasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim (2000: 7) yaitu:
a.       Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting yang lainnya, serta dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b.      Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dan orang-orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.
c.       Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat itu banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial

5.      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Model pembelajaran Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan. Menurut Arends (Ahmad Sudrajat, 2008) pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa belajar dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggungjawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli.



Kelompok Asal
(4 sampai 6 anggota yang heterogen dikelompokkan)
@ # x
$ &
@ # x
$ &
@ # x
$ &
@ # x
$ &
@ # x
$ &
x x x
x x
@ @ @
@ @
# # #
# #
&&&
&&
$ $ $
$ $













(Tiap kelompok ahli memiliki satu anggota dari kelompok asal)
Gambar 1. Hubungan Antara Kelompok Asal dan Kelompok Ahli
(Ibrahim, 2000: 22)

Langkah-langkah dalam penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebagai berikut:
a.       Kelompok Asal (Base Group)
1)      Membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan berbeda.
2)      Bagikan materi atau tugas yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
3)      Masing-masing siswa dalam kelompok mendapat tugas atau materi yang berbeda dan memahami informasi yang berada didalamnya.

b.      Kelompok Ahli
1)      Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki tugas/materi yang sama dalam satu kelompok.
2)      Dalam kelompok ahli ini, guru menugaskan siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan materi atau tugas yang menjadi tangpgung jawab siswa.
3)      Tugaskan bagisemua angota kelompok ahli untuk memahamidan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari materi atau tugas yangtelah dipahami kelompok asal.
4)      Apabila tugas sudah seleai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali kelompok asal.
5)      Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli.
6)      Apabila kelompok sudah menyelsaikan tugasnya secara keseluruhan masing-masing kelompok melaporkan hasilnya dan mempresentasikan di depan kelas.
Jadi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.
v  Kelebihan
1)        Siswa lebih mudah menemukan dan memakai konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikanya masalah tersebut dengan teman-temannya.
2)        Melalui diskusi akan terjadi diskusi komunikasi karena siswa saling berbagi ide atau pendapat.
3)        Melalui diskusi akan terjadi elaborasi kognitif yang baik sehingga meningkatkan daya nalar.
v  Kekurangan
1)     Memerlukan waktu yang cukup lama
2)     Tidak dapat digunakan di kelas rendah


6.      Pembelajaran Creatif Problem Solving (CPS)
Problem solving adalah suatu metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk bisa memecahkan masalah.metode pemecahan masalah bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving siswa diajak berfikir memecahkan masalah. Tujuan dari problem solving adalah siswa diajak berfikir yang dimulai dengan mengidentifikasi masalh kemudian mencari alternatif yang paling tetap sebagai jawaban yang tepat dari masalah tersebut.penginsentifikasi masalah adalah menemukan persoalan dari konsep-konsep bahan ajar yang disampaikan oleh guru, kemudian merumuskan dalam bemntuk pertanyaan, sedangkan alternatif pemecahan masalah adalah mengkaji jawaban pertanyaan dari berbagai sumber yaitu buku pelajaran, pengalaman, dan faktor dari sumber lainya.
Kebaikan dan keburukan problem solving adalah sebagai berikut ;
Ø  Kebaikan pembelajaran creatif problem solving (CPS)
a.       Mendidik siswa berpikir secara sistematis
b.      Mampu mencari berbagai jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi.
c.       Siswa dapat belajar menganalisis sesuatu masalah dari berbagai aspek.
d.      Mendidik siswa untuk tidak mudah putus asa.
e.       Mendidik siswa percaya diri
Ø  Kelemahan pembelajaran creatif problem solving (CPS)
a.    Memerlukan waktu yang cukup lama
b.    Tidak dapat digunakan di kelas rendah
c.    Dapat menjadikan pelajaran tertinggal
Ø  Langkah-langkah pembelajaran problem solving
           Adapun langkah-langkah pembelajaran problem solving antara lain ;
1.      Persiapan
                            Jenis kegiatan belajar mengajar:
a.  Menentukan dan menjelaskan masalah
b. Menyediakan alat-alat atau buku yang relevan dengan masalah tersebut.
2.      Pelaksanaan
                            Jenis kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
a.       siswa mengadakan identifikasi masalah
b.      merumuskan hipotesis atau jawaban sementara dalam pemecahan masalah tersebut.
c.       mengumpulkan data atau keterangan yang relevan dengan masalah
d.      Menguji hipotesis (siswa berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan data yang ada)
3.      Evaluasi atau tindak lanjut
                                Jenis kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
a. Membuat kesimpulan pemecahan masalah
b.Memberi tugas pada siswa untuk mencatat hasil pemecahan masalah
Jadi Creatif Problem Solving merupakan suatu metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk bisa memecahkan masalah. Metode pemecahan masalah bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving siswa diajak berfikir memecahkan masalah.

7.      Pendekatan konstektual
A.    Hakikat Pengajaran dan Pembeljaran Konstektual
Pengajaran dan pembelajaran konstektual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapanya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara ddan tenagakerja (US. Departement of education The National School-to work Office yang dikutip oleh Blanchard 2001 )
           Pendekatan konstektual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa-siswa TK sampai denngan SMU untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan (University of Washington, 2001).
B.     Penerapan Pendekatan Konstektual di Kelas
Pembelajaran CTL mempunyai tujuh komponenutama, yaitu konstruktivisme (Constructivism), inkuiri (Inquiri), Bertanya (Quistionong), masyarakat belajar (Learning Comunity), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), penilaian sebenarnya (Autehentic Assesment). Sebuah kelas dikatakan mengguunakan pendekatan CTL jka menerapka ketujuh prinsip tersebut kedalam pembelajaranya. CTL dapt diterapkan dalam kurikulum apa saja, dan kelas yang bagaimanapu keadaanya (Depdiknas, 2002)
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut :
1)      Kembangkan pemikiran bahwa anak-anak akan lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahhuan dan ketrampilan barunya.
2)      Laksanakan sejauh mungkn kegiatan inkuiri kesemua topik
3)      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4)      Ciptakan masyarakat belajar ( belajar dalam kelompok-kelompok)
5)      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6)      Lakukan refleksi diakhir pertemuan
7)      Lakukan penilaia yang sebenarnyadengan berbagai cara.
Dalam CTL, hal-hal yang bisa gigunakan sebagi menilai prestasi siswa, antara lain (1) proyek/kegiatan dan laporanya; (2) PR (Pekerjaan Rumah); (3) kuis; (4) Karya Siswa; (5) Presentasi atau penampilan siswa; (6)Demonstrasi; (7Laporan; (8) Jurnal; (9) hasil tes tulis; dan (10)Karya tulis.
Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata. sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi dan hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik akan merasakan pentingnya belajar dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya
G.       Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Creatif Problem Solving dengan Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Creatif   Problem Solving dengan Pendekatan Kontekstual adalah suatu gabungan pembelajaran yang menggambungkan inti dari pembelajaran dari Cooperatif Tipe Jigsaw dan Creatif Problem Solving dengan pendekatan Konstektual agar dapat meningkatkan hasil pembelajaran dengan baik.
Adapun tahap-tahap pembelajaran gabungan pembelajaran koperatif tipe Jigsaw dan Creatif problem solving dengan pendekatan konstektual adalah sebagai berikut:
1        Menentukan dan menjelaskan masalah
2        Menyediakan alat-alat atau buku yang relevan dengan masalah tersebut.
3        Membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan berbeda.
4      Bagikan materi atau tugas yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
5     Masing-masing siswa dalam kelompok mendapat tugas atau materi yang berbeda dan memahami informasi yang berada didalamn
6    Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki tugas/materi yang sama dalam satu kelompok.
7    Dalam kelompok ahli ini, guru menugaskan siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan materi atau tugas yang menjadi tanggung jawab siswa.
8   Tugaskan bagi semua angota kelompok ahli untuk memahamidan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari materi atau tugas yang telah dipahami kelompok asal.
9    Apabila tugas sudah seleai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali kelompok asal.
10   Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli.
11  Apabila kelompok sudah menyelsaikan tugasnya secara keseluruhan masing-masing kelompok melaporkan hasilnya dan mempresentasikan di depan kelas.
12  Evaluasi pekerjaan siswa
13  Membuat kesimpulan pemecahan masalah
14  Memberi tugas pada siswa untuk mencatat hasil pemecahan masalah.

H.      Materi Aljabar.
Berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi edisi 2007 mata pelajaran matematika kelas VII semester I pada kompetensi mengaplikkasikan aljabar terdiri dari sub bab. Materi pembelajaran yang diajarkan kepada siswa dalam pokok bahasan aljabar selengkapnya seperti uraian berikut:
A.    BENTUK ALAJABAR
1.      Pengertian aljabar
Jika bentuk aljabarnya ax2 + bx + c  dengan a, b, dan c adalh konstanta dan x2, x adalah variabel maka :
Ø  Bentuk aljabar tersebut memiliki 4 suku, yaitu ax2, bx, dan c;
Ø  a disebut koeisien dari x2, b disebut koefisien dari x, c disebut konstanta, x2 dan x disebut peubah atau variabel.
Ø  bx dan cx merupakan suku-suku  sejenis, sedangkan ax2 , bx,dan d diseqbut suku-suku berlainan jenis.
2.      Penabahan dan pengurangan suku sejenis
Sebelum pembahasan lebih jauh, ingat kembali hukum distributif berikut:
a(b+c) = ab + ac atau ba + ca = (b+c)a
a(b-c) = ab - ac atau ab - ac = (b-c)a
          dengan demikian,berlaku pula :
3x + 2x = (3+2)x = 5x
3x – 2x = (3-2)x =1x
Jelas bahwa untuk suku-suku yang tidak sejenis tidak dapat dilakukan penambahan dan pengurangan
3.       Menemukan sifat-sifat perkalian dan pembagiansuku seejenis dan berbeda jenis
a.       Perkalian suku sejenis dan berbeda jenis
Pada bab sebelumnya, kamu telah mempejari sifat-sifat perkalian bilangan berpangkat sebagai berikut:
am x an = a x a x a....x a x a x a x...x a = am+n
                                                         m faktor                 n faktor            
                                                atau :
                                                am x an = am+n 
b.      Pembagian suku sejenis dan berbeda jenis
Dimana untuk setiap bilangn a dengan m > n, n adalah bilangan asli berlaku:

                        m faktor     
am : an =    = am-n
                         n faktor
atau disederhanakan lagi menjadi:
am : an  =  am-n
B.     PENERAPAN BENTUK ALJABAR DALAM ARITMETIKA
Dalam praktik sehari-hari, banyak permasalahan atau persoalan yang dapat dipecahkan dengan menggunakan perhitungan matematika, terutama dalamm kegiatan ekonomi.
Misalnya, dalam dunia perdagangan dikenal dengan istilah laba, rugi, harga jual, netto, dan sebagainyamenggunakan operasi bentuk aljabar. Untuk lebih jelasnya, perhatika uraian berikut!
1.      Menghitung nilai keseluruhan dan nilai per unit.
Untuk menentukan nilai keseluruhan dan nilai per unit, terlebih dahulu kamu harus mengetahui apa itu n ilai keseluruhan adan nilai per unit.
Nilai keseluruhan = banyaknya unit x nilai per unit.
Dari rumus diatas dapat dikembangkan lagi menjadi:
Banyaknya unit =
 dan
Nilai per unit =
2.      Perhitungan dalam kegiatan ekonomi
a.       Laba dan rugi
Harga jual, harga beli, laba,dan rugi
Dalam perdaganngan seseorang akan membeli suatu barang dengan harga tertentu, yang disebut harga beli, kemudian dijualnya dengan harga tertentu yang disebut harga jual.bila seoarng pedagang menjual barang dengan harga lebih tinggi dari harga beli maka dikatakan ia mendapatkan laba. Sebaliknya, bila menjulnya dengan harga lebih rendah dari harga beli maka dikatakan rugi. Begitu pula, bila harga jualnya sama dengan harga belinya maka dikatakan impas.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Laba diperoleh apabila harga jual lebih tinggi dari harga beli, sehingga berlaku rumus :
Laba = harga jual – harga beli
2.      Rugi diperoleh apabila harga jual lebih rendah dari harga beli, sehingga diperolleh ruumus:
Rugi = harga beli-harga jual
3.      Impaa terjadi jika harga jual sama dengan harga beli
Jika laba dinyatakan dengan U, rugi dengan R, harga jual denga J, dan harga beli dengan B maka persamaan laba dan rugi diatas diperoleh:
Laba                                              Rugi
U = J-B                                         R = B-J
J = B+U                dan                  J = B-R
B = J –U                                        B = J+R
b.      Rabat, bruto, tara, dan netto
1.      Rabat
Dalam belanja, kadang-kadanng kita menjumpai tulisan ”belnja diatas Rp10.000,00 mendapat diskon 10%. Kata-kata pada tulisan tersebut artinya bila kita belanja melebihi harga Rp10.000,00; berarti kita mendapatkan potongan 10%, sehingga diskon disebut juga dengan kata lain, yaitu potongan harga
2.      Bruto, tara, dan netto
Ditempat perbelajaan uga sering kita jumpai barang yang tertuls kata bruto, tara, dan netto.
Misalnya pada sebuah karung beras tertulis;
Bruto 50kg
Netto 49kg
Artinya berat keseluruhan dari beeras karung adalah 50kg, sedangkan berat berasnya saja adalah 49kg, sehingga berat karungnya 1kg. Berat keseluruhan disebut berat kotor atau berat bruto, berat berasnya saja disebut erat netto.berta karung yang merupakan selisih bruto dan netto disebut tara.
Atau dapat ditulis
      Tara = bruto – netto
Keterangan
Bruto   = berat kotor
Neto    = berat bersih
Tara     = selisih antara bruto dan neto.
3.      Pajak dan bunga tunggal
a.       pajak
Pajak merupakan iuran yang harus dibayarkan masyarakat kepada pemerintah. Kita sering mendengar istilah pajak dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pajak pendapatan, pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan  pajak undian, dan sebagainya. Pajak biasanya dinyatakan ddalam persen dan umunya dalam tempo satu tahun. Namun begitu, untuk pajak undian dipotong langsung dari besarnya hadiah.
Dapat dirumuskan:
Pajak = %pajak x modal

b.      bunga tunggal
dalam kehidupan sehari-hari, kita serinng mendengar orang menabung uang di bank, meminjam uang dikoperasi, dan sebagainya. Orang menabung dibank biasanya mendapatkan bunga. Sedangkan orang yang meminjam uang baik dibank maupun dikopersai, biasanya harus membayar bunga.buga tabungan merupakan bunga tunggal yaitu bunga yang dihitung dari suatu modal yang tetap nsaja. Besarnya bunga dihitung dalam persen, baik untuk satu bulan maupun satu tahunyang dihitung dari pokok pinjaman ataupun pokok modal. Sedangkan untuk mehitun bunga, menggunakan rumuus berikut:
bunga per bulan =  x % bunga perbulan x modal
bunga per tahun = x%bunga per tahun x modal

I.         Kerangka berfikir
Untuk meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami aljabar dalam kehidupan ekonomi di SMP denganmembangun sendiri pengetahuan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari, maka perlu dipilih metode mengajar yang tepat. Pemilihan metode mengajar tersebut dapat menambah ketertarikan minat an motivasi siswadi alam proses belajar mmengajar terutama pada materi aljabar.
Model pembelajarn yang sesuai adalah dengan adanya pembelajaran yang menarik dan menyenagkan bagi siswa. Maka siswa akan mudah mempelajari matematika karena belajar matematika menyenagkan, pada akhirnya kemampuan belajar anak meningkat dan nilai pelajaran matematika akan mencapai ketuntasan.

J.        Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka toritik di atas, maka hipotesis penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut:
”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving(Cps) Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 Smp N 1 Susukan, Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011”

K.      RENCANA PENELITIAN
A.       Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di VII A SMP Negeri 1 susukan, semarang yang beralamat di kecamatan Susukan.
B.       Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas V11 A SMP Negeri 1 susukan yang
terdiri dari 40 siswa.
C.       Faktor Penelitian
a.    Faktor Siswa
1)   Hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan alajbar  yaitu meliputi, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan perpangkatan.
2)   Keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran matematika pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe  jigsaw dan CPS denagn pendekatan konstektual.
b.    Faktor Guru
Melihat cara guru membuat rencana pelaksannaan pembelajaran dan bagaiman pelaksanaanya dengan menggunakan model kooperatif tipe jigsaw dan CPS dengan pendekatan kotekstual.
D.       Rencana Tindakan
Penelitian yang dilakukan berupa penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang dilakuan untuk meneliti hal- hal yang terjadi pada kelompok sasaran dan hasilnya  dapat langsungdi kenakan pada kelompok yang bersangkutan dengan ciri utama adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan sasaran
Peneliti yang di lakukan untuk 2 siklus sebagai berikut:
Siklus 1: Melakukan simulasi aritmatika sosial dalam kehidpan sehari-hari
Siklus 2: Menyelesaikan operasi aljbar dalam kegiatan ekonomi
Pendekatan ketrampilan proses sebagai upaya pemecahan masalah meliputi rencana tindakan yang telah direncanakan sebanyak dua siklus, yaitu sebagai berikut
1.      Rencana tindakan siklus 1
a.       Rencana (planing)
1)      Identifikasi dan klarifikasi semua masalah- masalah yang dihadapi oleh siswa  dan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
2)      Membuat rencana pembelajaran tentang kolaborasi pembelaajaran kooperatif jigsaw dan problem solving dengan pendekatan kontekstual
3)      Menyiapkan alat bantu mengajar, alat evaluasi yang berupa test observasi.
b.       tindakan (action)
1)   Guru menyampaikan tujuan pembelajaran tentang materi aljabar.
2)   Gurumembenuk kelompok kelas yag anggotanya terdri dari 5-6 siswa secara heterogen.
3)   Guru membagikan soal kepada masing-masing kelompok.
4)   Guru memberi waktu agar masing-masing siswa mwmpelajari masalh yang diberikan.
5)   Guru mengubah bentuk kelompok dengan cara penukaran jumlah anggota kelompok menurut soal yang diterima dan membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli.
6)   Dengan bimbingan guru siswa berdiskusi dalam kelompok ahi untuk memperoleh jawaban.
7)   Guru meminta siswa kembali ke kelompok asal.
8)   Guru meminta siswa untuk menjelaskan kepada kelompok asal.
9)     Guru meminta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan   hasil kerja.
10)    Guru bersama siswa membahas soal tersebut.
11)    Guru bersama siswa bersama-sama membat kesimpulan.
12)    Guru melakukan evaluasi terhada hasil kerja melalui post tes.
c.        Observasi (observation)
1)      Penelliti mengamati mengenai kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal, kerja sama dalam kelompok diskusi dan kepandaian mengemukakan ide jawaban serta minat siswa dalam pembelajaran matematika.
2)      Peneliti mengamati siswa dalam menjelskan jawaban didepan guru dan teman-temannya.
3)      Peneeliti mengamati guru dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan kolaborasi pembelajaran kooperatif jigsaw dan problem solving dengan pendekatan konstektual.
d.       Analisis dan refleksi
Hasil pada tahap pengamatan yaitu tentang siswa dalam menerima dan menyelesaikan soal, juga cara guru pada waktu membimbing siswa, di kumpulkan untuk analisis dn di evaluasi oleh peneliti. Kemudian peneliti dapat merefleksikan diri tentang berhasil tidaknya yang telah dilakukan. Hasil dari siklus 1 digunakan untuk perbaikan-perbaikan pada siklus 2
2.      Rencana tindakan siklus 2
a.       Rencana (planing)
1.      Identifikasi dan klarifikasi semua masalah- masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam kegiatan beljar mengjar.
2.      Membuat rencana pembelajaran tentang kolaborasi pembelaajaran kooperatif jigsaw dan problem solving dengan pendekatan kontekstual
3.      Menyiapkan alat bantu mengajar, alat evaluasi yang berupa test observasi.
b.      Tindakan (action)
1.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran tentang materi aljabar.
2.      Guru membenuk kelompok kelas yag anggotanya terdri dari 5-6 siswa secara heterogen.
3.      Guru membagikan soal kepada masing-masing kelompok.
4.      Guru memberi waktu agar masing-masing siswa mwmpelajari masalh yang diberikan.
5.      Guru mengubah bentuk kelompok dengan cara penukaran jumlah anggota kelompok menurut soal yyang diterima dan membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli.
6.      Dengan bimbingan guru siswa berdiskusi dalam kelompok ahi untuk memperoleh jawaban.
7.      Guru meminta siswa kembali ke kelompok asal.
8.      Guru meminta siswa untuk menjelaskan kepada kelompok asal.
9.      Guru meminta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan   hasil kerja.
10.  Guru bersama siswa membahas soal tersebut.
11.  Guru bersama siswa bersama-sama membat kesimpulan.
12.  Guru melakukan evaluasi terhada hasil kerja melalui post tes.
c.       Observasi (onservation)
1)      Peneliti mengamati megenai kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal, kerja sama dalam kelompok diskusi dan kepamdaian mengemukakan ide jawaban serta minat siswa dalam pembelajaran matematika.
2)      Peneliti mengamati siswa dalam menjelaskan jawaban didepan guru dan teman-temannya.
3)      Peneliti mengamati guruu dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan kolaborasi model kooperatif tipe jigsaw dan problem solving dengan pendekatan konstektual.
d.      Analisis dan refleksi
Hasil pada tahap pengamatan yaitu tentang siswa dalam menerima dan menyelesaikan soal, juga cara guru pada waktu membimbing siswa, di kumpulkan untuk analisis dn di evaluasi oleh peneliti. Diharapan pada siklus III ini, ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving (CPS) dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 A Smp N 1 Susukan, Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011”

E.       Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.      Sumber data
Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah siswa kelas VII A SMP Susukan, catatan guru dalam menliti.
2.      Jenis data
      Data yang diperoleh adalah kualitatif dan kuantitatif yang terdiri dari:
a.       Hasil belajar siswa dalam menyelesaikan masalah dengan linier.
b.      Keaktifan belajar siswa.
c.       Kerja sama siswa dalam kelompok.
d.      Kterkaitan perencanaan dan pelaksanaan.
3.      Cara Pengambilan Data
a.       Hasil belajar siswa dalam penyelesaian masalah diperoleh dari hasil tes tertulis dalam bentuk tes uraian.
b.      Keaktifan siswa diambil dari pengamatan.
c.       Kerjasama siswa dalam kelompok diambil dari pengamatan.
d.      Ketertaitan perencanaan dan pelaksanaan tindakan diambil dari lembar pengamatan.

F.       Metode penyusunan instrumen.
1.      Menetukan Materi
Materi dalam penelitian ini adalah tentanng sub materi pokok Aljabar yang diajarkan pada siswa kelas VII A  semester I SMP Negeri I Susukan.
2.       Menyusun Kisi-kisi
Pembuatan ksi-kisi tes sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk menjaga siswa agar tes yang disusun tidak menyimpang dari materi.
3.      Menetukan Tipe Test
Tipe soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian. Soal tes tersebut adalah tes yang diberikan setelah sub materi pokok tersebut selesai.
4.       Uji Coba Perangkat Tes
Tujuan diadakan uji coba perangkat tes adaalah untuk mengetahui validitas, reabilittas, tingkat kesukaran dan daya pembeda.
5.      Analisis Perangkat Tes
a.        validitas
validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat validitas suatu instrument. Suatu instrumen yang valid mempunyai validitasyang tinggi. Valliditas berkenaan dengan ketepatan alat penilai ( instrumen ) eterhadap aspek yang dinilai shingga benar-benar menilai apa yang seharusnya dinilai (Arikunto, 2006:168 ).
Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran (validitas logis) dan pengalaman (validitas empiris). Validitas logis tes ini dapat dicapai krena kesesuaian dengan kurikulum bidang matematika kelas VII SM. Sedangkan validitas empiris dari tes ini melalui uji coba dengan menggunakan rumus korelaasi product moment untuk mengetahui tiap item, yaitu: 
rxy =
Dimana:
rxy        = Koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y
N         = Banyaknya peserta tes
SXY    = Jumlah perkalian skor item dan skor total
SX       = Jumlah skor item
SY       = Jumlah skor total
SX2     = Jumlah kuadrat skor item
SY2     = Jumlah kuadrat skor item
(Arikunto, 2006:170 )
Setelah didapat harga  rxy kemudian dikonsultasikan pada tabel harga kritik product moment dengan taraf signifikan 5%, jika rxy> rtabel maka soal tersebut valid. Item soal yang tidak valid tidak dipakai atau diperbaiki.
b.      Reliabilitas
Reabillitas artinya dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Menurut (Arikunto, 2006:178 ), suatu tes dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebutt dapat memberikan hasil yang tepat. Dalam menentuukan harga reliabilitas dalam peneltian digunakan rumus alpha, sebagai berikut :
r11 =                                 (Arikunto, 2006: 196)
Keterangan:
r11      =   reliabilitas yang dicari
K      =   banyaknya butir pertanyaan atau banyak soal
åsb2  =   jumlah varians butir
åst2  =   varians total
Dengan rumus varians dapat dicari st2 yaitu :c
st2   =
Nilai r11 yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan r product moment pada tabel dengan ketentuan jika r11> rtabel, maka tes tersebut reliabel.
Kriteria penjumlahan reliabilitas tes yaitu setealah didapat harga  kemudian harga  di konsultasikan dengan harga r product momen pada tabel. Jika ˃  maka tes yanng diucicobakan reliabel
Kriteria penafsiran reliabilitas sebagai berikut :
Jika 0,000  ˂ 0,200  : reliabilitas sangat rendah.
Jika 0,002  ˂ 0,400  : reliabilitas rendah     
Jika 0.400 ≤  ˂ 0,600  : relianilitas cukup
Jika 0.600 ≤  ˂ 0,800  : re;obilitas tiggi
Jika 0.800 ≤  ˂ 1,000  : reliabilitas sanngat tinggi

c.       Tingkat Kesukaran
Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal uraian menggunakan metode penskoran dengan metode global yaitu dengan rumus :
P =
Keterangan :
P = tingkat kesukaran
Tingkat kesukaran di klarifikasikan sebagai berikut :
                                              i.            Jika banyaknya testee gagal 0% ˂ P ≤ 27%,  maka butir soal termasuk kategori rendah.
                                            ii.            Jika banyaknya testee gagal 27% ˂ P ≤ 72%,  maka butir soal termasuk kateogori sedang.
                                          iii.            Jika banyaknya testee gagal 0% ˂ P ≤ 100%,  maka butir soal termasuk kategori sukar.
d.      Daya Pembeda
Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang pandai (kelompok atas) dengan siswa yang kurang pandai 9
(kelompok bawah). suatu soal diangga baik apabila siswa yang pandai dapatmejawab yang benar, sehingga dengan semakin besar daya pembeda soal, maka soal tersebut semakin baik, untuk menghitung daya pembeda digunakan :
t =
keterangan :
t               = daya pembeda
MH          = Rata-rata dari kelompok atas
ML           = Rata-rata dari kelompok bawah
                            = Jumlah kuadrat deviasi individu dari kelompok atas
                            = jumlah kuadrat deviasi individu dari kelompok bawah.
                         = 27% x N ( jumlah sampel)
Hasil perhitungan kemudian dikonsultasikan dengan  dengan taraf signifikan 5%. Daya pembeda dikatakan signifikan apabila  ˃  dengan dk = ( ) + ( ).

G.      Analisis Data
1.         Data mengenai keaktifan siswa dalam belajar matematika
Untuk mengetahu seberapa besar keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar matematika, maka analisis ini dilakukan pada instrumen lembar observasi siswa dengan menggunakan teknik diskriptif melalui prosentase.
Adapun penghitungan prosentase keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar matematika adalah sebagai berikut :
              Kriteria Penilaian :
              Skor penilaian =  x 100%
              Skala penilaian :
              A : 4              A : Sangat baik                       A : 86% - 100%
              B : 3              B : Baik                                   B : 76% - 85%
              C : 2              C : Sedang                              C : 66% - 75%
              D : 1              D : Kurang                              D: 65%
              Skor maksimum : 40
              Skor minimum   : 10
2.         Data mengenai hasil belajar siswa dalammenyelesaikan soal-soal tentang aljabar
Data mengenai hasil belajar diambil dari kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tentang aljabar yang dianalisis melalui hasil post test pada masing-masing siklus, kemudian diaanalisis lagi dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan belajar secara kklasikal. Adapun rumus yang digunakan :
a.       Menghitung rata-rata nilai :
Untuk menghitung rata-rata klasikal, digunakan rumus rata-rata nilai :
 =                        
Keterangan :
        = Rata-rata nilai
     = jumlah seluruh nilai
         = jumlah siswa
b.      Menghitung ketuntasan belajar
Data yang diperoleh dari hasil belajar siswa dapat ditentukan ketunttasan belajarnya baik tuntas secara individu maupun tuntas secara klasikal.
                                         i.            Ketuntasan belajar individu
Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan individu, jika siswa tersebut memperoleh tinggkat penguasaan materi minimal 65% atau memperoleh nilai 6,5 atau 65.
Tuntas belajar individu =
                                       ii.            Ketuntasan belajar klasikal
Suatu kelas dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar klasikal, jika minimal 85% dari jumlah siswa yang ada dikelas tersebut mencapai tingkat ketuntasan individu.
Tuntas belajar klasikal  =

3.         Dengan mengenai minat siswa terhadap pembelajaran matematika
Untuk menetahui seberapa minat siswa dalam pembelajara aljabar khususnya dalam soal yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran creatif problem solving dengan pendekatan konnstektual,  maka digunakan lembar angket minat yng berupa kolom isian cheklist, dengan kriteria penilaian seebagai berikut :
              31 – 40 = minat siswa tinggi
              21 – 30 = minat siswa sedang
              10 – 20 = minat siswa rendah
              Skala penilaian :
              SS     : Sangat Setuju                        SS        : 4
              S        : Setuju                                    S          : 3
              KS     : Kurang Setuju                       KS       : 2
              TS     : Tidak Setuju                          TS        : 1
              Skor maksimum        : 40
              Skor minimum          : 10

4.         Data mengenai kerja sama dengan kelompok
Untuk menngetahu bagaiman kerja sama dalam kelompok dalam menyellesaikan soal-soal aljbar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran creatif problem solving dengan pendekatan konstektual, maka digunakan angket kerjasam siswa yang bberupa angket pilihan ganda, dengan kriteria sebagai berikut :
31 – 40     = kerjasama dalam kelompok tinggi
21 – 30     = kerjasama dalam kelompok sedang
10 – 20     = kerjasama dalam kelompok rendah
Skala penilaian :
a.       Skor     = 4
b.      Skor     = 3
c.       Skor     = 2
d.      Skor     = 1
Skor maksimum           = 40
Skor minimum             = 10

5.         Data mengenai aktifitas guru dalam proses belajar mengajar
Untuk mengetahui seberapa besar aktiffitas guru dalam proses kegiatan belajar mengajar matematika didalam kelas, maka analisis in dilakukan pada instrumen lembar observasi guru dengan menggunakan teknik diskriptif melalui prosentase.
Adapun perhitungan presentase aktifitas guru dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut:
Skor penilaian =  x 100%
Skala penilaian
A    = 4                A    = Sangat baik              A    ; 85% -100%
B    = 3                B    = Baik                         B     : 75% - 85%
C    = 2                C    = Sedang                    C     : 66% - 75%
D    = 1                D    = kurang                     D    : 65%
Skor maksimum   : 40
Skor minimum     : 10

H.      Indikator Keberhasilan
Dalam penelitian tindakan kelas tentang model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran kretif problem solving dengan pendekatan konstektual indikator keberhasilanya meliputi :
1.         Guru dapat meningkatkan kinerja dalam pembelajaran. Dalam hal ini dapat dilihat dai perubahan perbaikan yang dilakukan oleh guru pada setiap pembelajaran sehingga kesalahan-kesalahan dalam proses pembelajarn dapat diminimalkan. Guru dapat dikatakandapat meningkatkan kinerjanya dalam pembelajaran apabila mencapai presentase keberhasilan ˃ 85%.
2.         Siswa dapat meningkatkan keaktifan dan kerjasamanya didalam pembelajaran serta mampu mempresentasikan hasil diskusinya dengan baik, dengan prosentase sebenarnya 85%.
3.         Siswa dapat meningkatkan hasil belajar dalam menyelesaikan masalah materi aljabar dengan ketuntasan belajar individu 65% dan ketuntasan belajar klasikal sekurang-kuranggnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada dalam kelas.
I.         SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
Untuk mempermudah dalam memahami skripsi  ini maka secara keseluruhan sistematika penulisn skripsi susun menjadi tiga bagian yaitu :
A.    Bagian awal
Bagian ini terdiri dari halaman judul, halaman persetjuan, halaman pengesahan, motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi daftar lampiran, abstrak.
B.     Bagian Inti
Bbagian inti terdiri dari lima bab yaitu:
Bab I                 : Pendahulan, berisi latar belakang peneggasan istilah, rumusan  masalah, cara pemecahan masalah, serta sistematika penulisan skripsi.
Bab II                : Landasan teori dan hipootesis tindakan; membahas teori belajar, pembelajaran, model pembelajaran kopooperatif tipe jigsaw model pembelajaran problem solving dengan pendekatan konstektual, ringkasan maeri aljabar, kerangkka berfikir dan hipotesis tindakan.
Bab III              : Rencana penelitian; berisi lokasi penelitian, subjek penelitian, rencana tindakan, metode pengumpulan data dan iindikator kberhasilan.
Bab IV              : Pembahasan ; membaha hasil penelitian, implikasi teori, tindakan yang diambilsebagai hasil, penelitian terhadap hasil dan analisis data
Bab V                : penutup; berisi kesimpulan dan saran
C.     Bagian Akir
Daftar pustaka
Lampiran-lampiran


DAFTAR PUSTAKA

Mulyati M.Pd, 2005. Psikologi Belajar Yogyakarta: CV Andi ovset
Arikunto, S. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Darsono, dkk. 2001. Belajar Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.

Ibrahim, H.M., dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA – University Press.

KBBI.2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sudjana. 2005. Matode Statistika. Bandung: Tarsito.

Sudrajat, Akhmad. 2008. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dalam http://akhmadsudrajat/wordpress.com/2008/08/15/pengertian-fungsi-dan-mekanisme-penetapan-kriteria-krtuntasan-minimal-kkm/, tanggal 28 Oktober 2009.

TIM MKPBN UPI. 2001 Strategi Pembelajaran matematika Kontemporer Bandung UPI

Suherman, E. dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Sukino.2007. Matematika Untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga.

Penyusun tim. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : balai Pustaka

Baharudin dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Malang Arruzz media

Hamruni Msi. 2009. Startegi dan Model-model Pembelajaran Aktif dan Menyenangkan. Yogyakarta : UIN

Trianto, S.Pd., M.Pd. 2007.pembelajaran Inovatif broreantasi konstruktivistik. Jakarta Prestasi pustaka

Hodoyo Herman. 1990. Strategi belajar matematika . Perpustakaan ikip pgri semarang

Munandar Utami 2008, Psikologi Belajar. Jakarta
            Rajawali PEB
LEMBAR BIMBINGAN


Nama                        : Trisnawati
NPM                        : 07310401
Judul Skripsi            : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving(Cps) Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 Smp N 1 Susukan.
Pembimbing I           :
NO
Hari/Tanggal
Materi Bimbingan
Tanda Tangan































LEMBAR BIMBINGAN


Nama                        : Heri Cahyono
NPM                        : 07310199
Judul Skripsi            : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving(Cps) Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 Smp N 1 Susukan.
Pembimbing I           :  Prof. Dr Sunandar M.Pd
NO
Hari/Tanggal
Materi Bimbingan
Tanda Tangan
































LEMBAR BIMBINGAN


Nama                        : Heri Cahyono
NPM                        : 07310199
Judul Skripsi            : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Model Pembelajaran Creatif Problem Solving(Cps) Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Aljabar Kelas V11 Smp N 1 Susukan.
Pembimbing I           : Drs Rasiman M.Pd
NO
Hari/Tanggal
Materi Bimbingan
Tanda Tangan































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar